Dolar AS Menguat, Investor Khawatir Melonjaknya Kasus Covid-19 Varian Delta

NEW YORK Dolar AS dan mata uang seperti yen, dan franc Swiss menguat pada akhir perdagangan Senin, karena investor khawatir terhadap meningkatnya kasus positif Covid-19 varian Delta. Hal ini pun dapat mengancam prospek pemulihan ekonomi global.

Greenback naik ke puncak lebih dari tiga bulan terhadap sekeranjang mata uang utama, tetapi telah turun dari level tertinggi karena yen dan franc Swiss menguat dengan memburuknya sentimen risiko. Dolar AS tetap menguat terhadap mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Baca Juga: Dolar Menguat Didorong Turunnya Klaim Pengangguran AS

Kasus Covid-19 Varian Delta menjadi dominan di seluruh dunia. Lonjakan kematian terjadi di Amerika Serikat, dengan rerata kasus meninggal adalah orang-orang yang tidak divaksinasi.

“Tembok kekhawatiran sedang dibangun. Ekuitas yang lebih rendah, imbal hasil yang lebih rendah, penguatan yen Jepang dan dolar AS semuanya merupakan dorongan risk-off yang signifikan di pasar,” kata Analis Senior DailyFX.com, Christopher Vecchio, dilansir dari Reuters, Selasa (20/7/2021).

Dalam perdagangan, indeks dolar yang mengukur nilai greenback terhadap enam mata uang utama, naik ke level tertinggi sejak 5 April. Terakhir naik 0,2% ke 92,868 

Baca Juga: Naik Lagi, Indeks Dolar AS Menguat 0,6% Selama Sepekan

Sementara itu, akibat ketidakpastian global terkait varian virus corona, pasar suku bunga AS juga menurunkan ekspektasi pengetatan yang akan dilakukan Federal Reserve AS pada 2022 dan 2023.

“Pasar suku bunga tampaknya tidak berpikir tindakan Fed akan segera terjadi, terutama karena kekhawatiran varian Delta melonjak,” kata Vecchio.

Dolar juga menguat kuat terhadap mata uang komoditas dengan naik lebih dari 1,1% terhadap dolar Kanada menjadi C$1,2763. Dolar Aussie turun 1% versus greenback menjadi USD0,7325, sementara dolar Selandia Baru juga turun 1,1% menjadi USD0,6923.