Elok, Ada Kereta Tanpa Masinis Pertama Indonesia di Bandara Soetta

Elok, Ada Kereta Tanpa Masinis Pertama Indonesia di Bandara Soetta

JAKARTA – PT Len Industri (Persero) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melaksanakan uji coba gerobak tanpa masinis pada Bandara Soekarno-Hatta.

Utusan Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material BPPT Eniya Listiani Buah hati didampingi Direktur Operasi I PT Len Industri (Persero) Linus Andor M Sijabat menjajal sistem driverless pada skytrain atau (Automatic People Mover System/APMS) Bandara Soekarno-Hatta dalam rangka kegiatan akhir audit teknologi (Communication-Based Train Control/ CBTC).

Baca Juga:   Organda Senang SIKM ke Jakarta Dihapuskan

Sistem CBTC memungkinkan APMS Kalayang akan menjadi moda transportasi kereta full driverless (tanpa masinis) pertama di Indonesia dengan dapat memberikan keamanan, kenyamanan, dan keandalan bagi para penumpang di bandara.

Eniya meninjau ruang OCC (Operation Control Center) untuk memantau uji ketahanan (endurance test) operasi driverless APMS Kalayang yang sedang menjalankan empat train set kalayang secara otomatis sejak terminal T1 ke terminal T3 dan sebaliknya secara looping terus-menerus dan melihat peralatan trackside CBTC di ER (Equipment Room).

Baca Juga:   Tak Hanya Bogor, Bus Percuma Disiapkan di Beberapa Stasiun Ini

“Tim BPPT membantu audit dari sistem perkeretaapian di kalayang ini. Kita sudah melihat performa, sistem, dan seluruh aspek. Selama 14 bulan, kita cek dan kali ini kita sudah memastikan semua bergerak secara baik. Beberapa waktu yang semrawut saya dilapori tim yang menilai, ada beberapa prosedur yang menetapkan diperbaiki, terus sudah ditangani dengan baik. Dan kali ini telah clear semua, sehingga kita bisa mengeluarkan rekomendasi teknis dari BPPT, ” jelas Eniya, dalam keterangannya, Kamis (23/7/2020).

Eniya berharap agar sistem ATO (Automatic Train Operation) dan ATP (Automatic Train Protection) Len bisa diterapkan di semua lintasan perkeretaapian. Ia juga berharap Indonesia bisa lebih maju karena semua sudah mampu di-handle oleh tenaga lokal pada Indonesia.

Loading…