Harga Minyak Naik Lebih dari 2% Menuju USD80/Barel

JAKARTAHarga minyak naik dua hari berturut-turut pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Harga minyak naik karena pasar bereaksi terhadap penurunan persediaan AS dan tanda-tanda permintaan Asia yang kuat dari China dan India menambah dukungan bagi emas hitam.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September menetap 1,93 persen atau 1,43 dolar AS lebih tinggi, menjadi 75,55 dolar AS per barel. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus terangkat 2,22 persen atau 1,62 dolar AS, menjadi ditutup di 74,56 dolar AS per barel.

Harga di kedua sisi Atlantik berada di jalur penurunan mingguan hampir satu persen, terseret oleh gagalnya pembicaraan produksi antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang bersama-sama dikenal sebagai OPEC+.

Baca Juga: Stok BBM di AS Merosot, Harga Minyak Dunia Naik 

Untuk minggu ini, harga acuan minyak mentah AS turun 0,84 persen dan minyak mentah Brent turun 0,80 persen.

Persediaan minyak mentah dan bensin AS turun serta permintaan bensin mencapai level tertinggi sejak 2019, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan pada Kamis (8/7/2021), menandakan peningkatan kekuatan dalam perekonomian.

Persediaan minyak mentah AS turun 6,9 juta barel selama pekan yang berakhir 2 Juli, EIA mengatakan dalam sebuah laporannya. Laporan EIA juga menunjukkan total persediaan bensin turun 6,1 juta barel pekan lalu dan sekitar 2,0 persen di bawah rata-rata lima tahun untuk tahun ini.

“Laporan persediaan EIA yang bullish membantu pasar minyak rebound ke wilayah positif,” kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM, dikutip dari Reuters.

“Jelas, pasar minyak AS ketat. Namun … satu-satunya cara untuk mencegah kerugian lebih lanjut adalah menahan ancaman perang harga OPEC+,” tambahnya.

Kenaikan harga minyak dibatasi oleh kekhawatiran bahwa anggota kelompok OPEC+ dapat tergoda untuk mengabaikan batas produksi yang telah mereka ikuti selama pandemi COVID-19, dengan pembicaraan terhenti karena kebuntuan antara produsen utama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. .

Dua sekutu Teluk OPEC berselisih mengenai usulan kesepakatan yang akan membawa lebih banyak minyak ke pasar.