Kisah Bos Evergrande Pernah Jadi Orang Terkaya, Kini di Ujung Kebangkrutan

JAKARTA – Pendiri Evergrande Group Hui Ka Yan pernah menjadi orang terkaya se-Asia dengan kekayaan USD42,5 miliar atau setara Rp608,5 triliun. Sayangnya, 75% dari kekayaan itu menguap karena masalah gagal bayar Evergrande.

Perusahaan real estate itu berutang hingga USD305 miliar atau lebih dari Rp4.000 triliun, meski kas mereka hanya sejumlah USD13,4 miliar. Evergrande pun meminjam tak hanya dari bank, perusahaan perwalian, dan pemegang obligasi, tetapi juga karyawan dan masyarakat luas.

Menurut Jurnal Keuangan Lokal Ciaxin, Evergrande memiliki utang off-balance sheet sebesar USD6,2 miliar. Angka ini berasal dari produk wealth management yang dijual pada investor ritel.

Kisah Investor

Seorang warga Inggris, Liz, sempat membeli produk kekayaan tanpa asuransi itu sebanyak CNY350 ribu (setara Rp773 juta) selama setahun terakhir. Pasalnya, Evergrande menjanjikan pengembalian tahunan 7,5%.

Baca Juga: Skema Terburuk Atasi Gagal Bayar Raksasa Properti Evergrande

Liz mengaku telah mendapatkan pembayaran pokok dan bunga sebesar CNY100 ribu pada akhir tahun lalu. Namun, dia khawatir tak akan mendapatkan sisanya yang jatuh tempo pada Januari mendatang.

Evergrande telah memberitahu Liz bahwa sebagian dari hasil penjualan akan digunakan untuk mendanai ekspansi ke pembuatan kendaraan listrik, sebuah bisnis yang kini juga di ambang kehancuran.

Baca Juga: 4 Fakta Evergrande Gagal Bayar Utang Rp4.000 Triliun yang Bikin Sri Mulyani Was-Was

Unit EV perusahaan baru-baru ini memperingatkan kekurangan dana yang serius dan mengaku telah menangguhkan pembayaran beberapa biaya operasionalnya, menurut pengajuan ke bursa saham.

Potensi keruntuhan Evergrande bergema di seluruh pasar global. Investor tak hanya pergi, tetapi juga membuang saham properti di seluruh Hong Kong karena khawatir adanya “penularan”, terutama karena ekonomi yang bergantung pada real estat setidaknya seperempat dari PDB.