Penataan Kawasan Pulau Rinca Tetap Lindungi Habitat Komodo

Penataan Kawasan Pulau Rinca Tetap Lindungi Habitat Komodo

JAKARTA – Departemen Pekerjaan Umum dan Perumahan Kaum (PUPR) melakukan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata, salah satunya di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Hal ini sebagai bagian dari penataan menyeluruh Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kemudian, untuk melindungi Taman Nasional Komodo sebagai World Heritage Site UNESCO yang memiliki Outstanding Universal Value (OUV), Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) dan Ditjen Cipta Susunan melaksanakan penataan kawasan Pulau Rinca dengan penuh kehati-hatian. Dalam peristiwa ini, Kementerian PUPR bekerja sepadan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melalui Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) yang ditandai dengan pengesahan kerja sama pada 15 Juli 2020.

  Baca selalu: Angela Tanoesoedibjo Ajak Pelaku Cara Pariwisata Tetap Optimistis

Koordinasi dan konsultasi terbuka yang intensif terus dilakukan, termasuk dengan para pemangku kepentingan yang lain, mulai dari tahap perencanaan, pengamalan dan pengawasan di lapangan untuk mencegah terjadinya dampak negatif kepada habitat satwa, khususnya komodo.

“Pembangunan infrastruktur di setiap KSPN direncanakan secara harmonis baik penataan kawasan, jalan, logistik air baku dan air suci, pengelolaan sampah, sanitasi, dan pemeriksaan hunian penduduk melalui sebuah rencana induk pengembangan infrastruktur yang memikirkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi, ” ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (29/10/2020).

  Baca juga: Wishnutama: Derma Hibah Pariwisata Rp3, 3 Triliun Segera Dikucurkan

Untuk itu kegiatan penataan Daerah Pulau Rinca meliputi:

(1) Dermaga Loh Buaya, yang merupakan peningkatan dermaga eksisting;

(2) Bangunan pengaman miring yang sekaligus berfungsi sebagai pekerjaan setapak untuk akses masuk & keluar ke kawasan tersebut;

(3) Elevated Deck pada ruas eksisting, berfungsi sebagai jalan akses yang menghubungkan dermaga, induk informasi serta penginapan ranger, guide dan peneliti, dirancang setinggi dua meter agar tidak mengganggu denyut komodo dan hewan lain dengan melintas serta melindungi keselamatan pengunjung;

(4) Bangunan Tengah Informasi yang terintegrasi dengan elevated deck, kantor resort, guest house dan kafetaria, serta;

(5) Bangunan penginapan untuk para ranger, pemandu wisata, dan peneliti, yang dilengkapi dengan pos penelitian dan pemantauan habitat komodo.